silahkan cari

Memuat...

Jumat, 15 Juli 2011

Geronggang


A.  Cratoxylon arborescens Bl.
Cratoxylon arborescens Bl atau yang dikenal di Indonesia dengan nama geronggang yang memiliki padanan nama yang berbeda untuk setiap daerah, diantaranya burunggang, dori, geronggang, madangbaro, mampat, mepa, tamaw, tumok (kalimantan) termasuk dalam family Clusiaceae. Tinggi pohon geronggang dapat mencapai 60 m, diameter dapat mencapapi 120 cm, tinggi banir sampai 1 m, daun berhadapan, bunga berdiameter 8 mm, dan biji bersayap kecil. Biasa dapat ditemui berasosiasi dengan hutan kerangas atau dipterokarp dan berperan sebagai tumbuhan pionir (Silk, 2011). Kulit luar berwarna kemerah-merahan sampai coklat, beralur, dan mengelupas kecil-kecil. Dengan sebaran habitat  hutan hujan tropis dengan tipe curah hujan A dan B, terutama pada tanah rawa atau zona peralihan antara tanah rawa dan tanah kering pada ketinggian sampai 60 m dpl (Martawijaya (1981) dalam Maha (1997)).
Tumbuh tersebar atau mengelompok dalam belukar atau hutan primer yang tergenang (prawira (1979) dalam Maha (1997)). Daerah penyebaran pertumbuhan pohon geronggang di indonesia meliputi sumatera utara, sumatera barat, sumatera selatan, riau, jambi, kalimantan barat, kalimantan selatan, dan kalimantan timur. Kayu teras geronggang berwarna merah jambu tua atau merah bata muda jika baru ditebang,lambat laun menjadi merah tua tetapi tidak menjadi coklat. Kayu gubal berwarna kuning, kadang-kadang semu merah jambu atau jingga. Agak mudah dibedakan dari kayu teras, tebal kira-kira 5 cm (Martawijaya (1981) dalam Maha (1997)). Manfaat kayu ini umumnya digunakan sebagai bahan untuk konstruksi dalam ruangan. Daerah sebarannya meliputi Burma, Semenanjung Malaysia, Jawa, Sumatera, dan Kalimantan (Silk, 2011).

Selasa, 14 Desember 2010

Damar Mata Kucing

Taksonomi  dan Informasi Damar Mata Kucing
Kingdom : Plantae/tumbuhan
Divisio : Magnophyta
Kelas : Magnoliopsida
Ordo : Malvales
Famili : Dipterocarpaceae
Subfamily : Dipterocarpoideae
Genus : Shorea
Species : Shorea javanica K. et. V. (Appanah dan Turnbull, 1998).

Damar adalah resin yang keras, padat dan mudah pecah, dengan
pengerasan segera setelah dieksekresikan, jika mengandung minyak esensial
yang dapat diuapkan dalam jumlah yang kecil. Walaupun semua
dipterocarpceae menghasilkan damar, hanya sebagian kecil yang memiliki nilai
komersial penting. Di Asia Tenggara, genus penting penghasil damar adalah
Shorea, Hopea dan Neobalanocarpus. Damar ditemukan sebagai eksudat alami
pada pohon yang hidup, berbentuk bungkahan, di atas tanah di bawah pohon, di
dekat tunas yang mati, bahkan terkubur di dalam tanah. Secara alami damar
dieksudasi oleh tumbuhan yang sakit, atau mengalami kerusakan pada kayu
gubalnya (Appanah dan Turnbull 1998).
Secara tradisional, damar digunakan sebagai bahan bakar obor penerang,
penambal perahu, dan kerajinan tangan. Resin Dipterocarpaceae juga
digunakan sebagai campuran resin aromatik yang berupa Styrax benzoin
(Stiracaceae) yang digunakan sebagai kemenyan dan obat-obatan.